Program Leadership dalam Employee Gathering untuk Pengembangan SDM!

Seringkali,
agenda tahunan kantor terjebak dalam stigma "menghamburkan anggaran".
Peserta datang, bersenang-senang, lalu pulang dengan kondisi yang sama seperti
saat mereka berangkat.
Padahal,
di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat di tahun 2025 ini, perusahaan
membutuhkan lebih dari sekadar karyawan yang bahagia; mereka membutuhkan
karyawan yang mampu memimpin. Inilah mengapa integrasi program leadership
dalam employee gathering menjadi tren yang diadopsi oleh banyak perusahaan
maju.
Ini
adalah strategi cerdas "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui".
Perusahaan mendapatkan momen refreshing untuk karyawan, sekaligus
menanamkan bibit-bibit kepemimpinan yang krusial bagi keberlanjutan bisnis.
Lantas,
bagaimana meramu materi kepemimpinan yang "berat" ke dalam suasana
liburan yang santai tanpa membuat peserta merasa digurui? Mari kita bedah
strateginya secara mendalam.
Mengapa
Kepemimpinan Harus Diajarkan di Luar Ruangan?
Metode
pembelajaran klasikal di dalam ruang rapat sering kali membosankan dan kurang
efektif untuk materi perilaku (soft skill). Sebaliknya, alam terbuka
menawarkan ruang belajar yang dinamis.
Konsep
ini dikenal dengan istilah Experiential Learning atau belajar melalui
pengalaman. Dalam konteks pelatihan kepemimpinan, peserta tidak disuguhi
teori di layar proyektor. Mereka langsung dihadapkan pada simulasi masalah
nyata.
Tekanan
waktu, kompetisi antar-tim, dan kondisi fisik yang lelah di lapangan akan
memunculkan karakter pemimpin yang asli yang mungkin selama ini
tersembunyi di balik meja kerja. Di alam bebas, hierarki jabatan sejenak
runtuh.
Seorang
manajer bisa saja belajar mendengarkan ide dari staf junior saat harus
mendirikan tenda atau memecahkan sandi permainan. Inilah momen emas untuk
melihat potensi kepemimpinan yang autentik.
Baca Juga : Paket Employee Gathering Malang Lengkap dengan Fasilitas Team Building
Merancang
Konten Program yang Efektif
Agar
program leadership dalam employee gathering berjalan sukses, panitia atau
HRD tidak boleh asal pilih permainan. Setiap aktivitas harus memiliki filosofi
dan tujuan pembelajaran (learning objective) yang jelas. Berikut adalah
pilar utama yang wajib ada:
1.
Simulasi Manajemen Konflik
Pemimpin
yang hebat bukan mereka yang menghindari masalah, tapi yang mampu mengurainya.
Dalam kegiatan outbound, ciptakan skenario permainan yang memicu
perdebatan strategi. Misalnya, permainan memindahkan air dengan pipa bocor.
Di
sini, peserta dipaksa untuk berdiskusi cepat, menekan ego, dan mengambil
keputusan di bawah tekanan. Fasilitator kemudian akan mengobservasi: Siapa yang
panik? Siapa yang menyalahkan teman? Dan siapa yang tampil sebagai penengah?
Ini adalah praktik nyata manajemen konflik yang jauh lebih membekas
daripada seminar seharian.
.webp)
2.
Membangun Komunikasi Efektif
Salah
satu penyebab utama rendahnya produktivitas tim adalah komunikasi yang
tersumbat. Program leadership harus menyertakan sesi yang memaksa peserta
berkomunikasi dengan cara yang tidak biasa.
Contohnya
adalah blind leader game, di mana pemimpin ditutup matanya dan harus
diarahkan oleh tim, atau sebaliknya. Permainan ini mengajarkan kepercayaan (trust)
dan pentingnya memberikan instruksi yang presisi.
Peserta
belajar bahwa seorang pemimpin harus bisa mendengar, dan tim harus bisa
menyampaikan pesan dengan jelas.
Tahapan
Krusial, The Debriefing (Refleksi)
Banyak
panitia gagal di tahap ini. Mereka sibuk dengan games, tapi lupa menarik
kesimpulan. Padahal, inti dari program leadership dalam employee gathering
terletak pada sesi debriefing atau refleksi.
Setelah
permainan usai, fasilitator harus mengumpulkan peserta dalam lingkaran. Di
sinilah diskusi mendalam terjadi. Fasilitator akan bertanya: "Mengapa
strategi tadi gagal?", "Apa yang kalian rasakan saat teman kalian
tidak mau mendengar?", atau "Bagaimana relevansi permainan tadi
dengan pekerjaan kita di kantor?".
Baca Juga : Ide Employee Gathering Akhir Tahun yang Cocok untuk Semua Divisi
Diskusi
ini mengubah sebuah permainan sederhana menjadi wawasan manajemen yang
berharga. Peserta diajak menghubungkan pengalaman di lapangan dengan tantangan
riil operasional perusahaan sehari-hari.
Analisis
Kebutuhan Sebelum Eksekusi
Sebelum
merancang acara, tim HRD wajib melakukan Training Need Analysis (TNA)
sederhana. Apakah masalah tim saat ini adalah kurangnya inisiatif? Ataukah silo
(sekat) antar-divisi yang terlalu tebal?
Jika
masalahnya adalah inisiatif, maka desain program leadership dalam employee
gathering harus fokus pada keberanian mengambil risiko. Jika masalahnya
adalah kerjasama, maka perbanyak permainan yang membutuhkan kolaborasi massal.
Penyesuaian
ini penting agar materi yang disampaikan tepat sasaran dan menjadi solusi atas
masalah internal perusahaan.
Investasi
Jangka Panjang
Memasukkan
kurikulum kepemimpinan dalam acara gathering memang membutuhkan usaha ekstra
dan mungkin biaya tambahan untuk menyewa fasilitator profesional. Namun,
pandanglah ini sebagai investasi SDM jangka panjang.
Karyawan
yang pulang dari acara ini tidak hanya membawa foto kenangan bagus, tetapi juga
pola pikir baru. Mereka kembali dengan kesadaran bahwa setiap orang adalah
pemimpin bagi dirinya sendiri dan tanggung jawabnya.
Ketika
mentalitas ini terbentuk, budaya kerja akan berubah menjadi lebih positif,
tangguh, dan inovatif. Jadi, untuk agenda tahun ini, jangan biarkan acara
kantor berlalu biasa saja.
Sisipkan
nilai, tanamkan karakter, dan cetaklah pemimpin-pemimpin masa depan melalui
program yang terencana dengan matang.
Penulis : Rebecca Maura B (bcc)
.webp)


No comments:
Post a Comment